Catatan dinihari

Aduh, batasnya dimana ya? Sejak kemarin, naik ke tangga mimpi melulu. Biasanya aku suka jalan-jalan sekitar Denpasar. Ke pasar Kumbasari yang beceknya duile ampun deh. Tapi, senangnya kalau sudah sampai di pojok beli tipat cantok.

Dulu penyair-penyair dan anak-anak Angin sering ke sana. Mimpi sedikit, dan sedikit cerita kemana saja. Pokoknya semua halaman diisi dengan bunga, entah bunga tulip, mawar atau bunga apa saja.

Yang terlintas di benakku adalah catatan menarik yang aku buat malam-malam untuk mereka. kadang aku sering kangen, suasana gembira. Dan Aku ingat kita berteriak-teriak semata-mata meluapkan kegembiraan tiada tara. Entah karena menang lomba atau teman-teman yang datang dari jauh. Seluruhnya pantas dikenang banyak kenangan yang akan bercerita kelak.

Suatu sore, aku datang ke sebuah toko buku. Aku berkenalan dengan seseorang. Dan sejak kemarin tak sempat kupikirkan kenapa aku sibuk membaca tulisan-tulisannya yang sudah jadi buku. Rasanya tak jauh sebab banyak gairah terjadi disana. Entah apa?

Malamnya tepatnya kemarin, aku berhadapan dengan mesin elektronik yang asing, yang seluruhnya berbau asing, dengan huruf-huruf kanji yang tidak aku kenal. Aku berkelana sebentar, makin malam aku menggigil.

Tiba-tiba aku berkelana ke seluruh mimpi buruk. Aku tak ingin ingat. Tangga mimpi entah apalagi, idomatika beterbangan dan seluruh cerita menyeruak tiba-tiba seakan datang dari kejauhan. Aku tak lihat bulan sebab aku tak sempat menengok ke langit, jalanan semakin sepi seperti sebuah pemberontakan datang dari gurun-gurun pasir, jauh dan mengajakku berkelana.

Dua jam aku setengah sadar, padahal aku tak minum bir, hanya seharian aku menghabiskan dua gelas kopi dan ini kopi ketiga yang akan membuatku terjaga. Terjaga, entah untuk siapa. Seakan aku menunggumu datang malam ini, dan banyak berharap selagi televisi menyala itu tetap mengabarkan sesuatu.

Yang kutahu aku kedinginan, padahal cuaca terang benderang, mungkin penuh bintang di langit ketika kulambaikan tangan seakan mau jatuh sebentar atau aku ingin ada sesuatu yang lain.

Tambah malam dan aku tertidur bermimpi mendekap dirimu membagi tiap mimpi.